12 Tips Ampuh Agar Pasien PPOK Bisa Bernapas Lega

Udara yang Kamu Hirup Ternyata Punya 4 Fakta Bahaya Mengejutkan!

RAJAIDR – Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah kelompok penyakit paru yang menyumbat saluran pernapasan. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2021, PPOK adalah penyebab kematian tertinggi nomor tiga di dunia. Pada tahun 2019, PPOK membunuh sekitar 3,23 juta jiwa di seluruh dunia.

Sesak napas adalah salah satu gejala dari PPOK. Sementara PPOK tidak dapat disembuhkan, tetapi gejalanya bisa dikendalikan. Inilah beberapa cara untuk meringankan gejala PPOK agar aktivitas sehari-hari lebih melegakan.

1. Teknik pernapasan pursed lip

Saat sesak napas akibat PPOK melanda, teknik pernapasan pursed lips dapat mengendurkan saluran pernapasan dan napas bisa kembali normal. Teknik ini dapat dilakukan sekali atau dua kali sehari.

Menurut American Lung Association (ALA), berikut adalah cara melakukan teknik pernapasan pursed lips:

  • Duduk dan buat leher dan bahu relaks
  • Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, katupkan bibir, dan rasakan paru-paru terisi udara sebanyak mungkin
  • Kerucutkan bibir seperti ingin bersiul, lepaskan udara dari mulut dengan perlahan dan lembut lepaskan udara selama mungkin. Sangat penting bahwa membuang napas harus lebih panjang daripada mengambil napas
  • Ulangi langkah ini tiga atau empat kali

2. Jangan sampai dehidrasi

PPOK dapat menyebabkan lendir dari paru-paru menjadi kental, lengket, dan sulit dikeluarkan. Oleh karena itu, memastikan kadar cairan dalam tubuh tetap cukup dapat mengencerkan lendir, sehingga lebih mudah dikeluarkan. Hasilnya, napas lebih lega.

ALA juga merekomendasikan pasien PPOK untuk minum sekitar 6-8 gelas air sehari. Namun, agar tidak berlebihan, pastikan pasien berkonsultasi dengan dokter spesialis paru-paru mengenai batas air minum yang aman. Bagi pasien PPOK dengan komorbiditas gagal jantung, kebanyakan air malah dapat memperburuk keadaan.

3. Jaga postur tubuh

Postur tubuh ternyata penting untuk pasien PPOK. Menurut Canadian Lung Association (CLA), postur bungkuk membuat pasien sulit bernapas. Jika punggung tegak lurus, maka saluran pernapasan jadi lebih terbuka. Jika pasien sedang menghadapi gejala sesak napas PPOK, cobalah berganti postur berikut:

  • Saat duduk: letakkan kedua kaki rata di tanah, lalu condongkan kepala dan bahu sedikit ke depan, usahakan punggung tetap lurus. Letakkan kedua tangan di atas lutut dan pertahankan posisi agar tetap relaks.
  • Saat berdiri: sandarkan punggung ke dinding, kursi, atau meja. Beri sedikit jarak pada kedua kaki, relaks dan condongkan kepala serta bahu sedikit ke depan, dan usahakan agar punggung tetap lurus. Lemas dan istirahatkan tangan di paha.

4. Olahraga teratur

Berbeda dengan anggapan umum, olahraga teratur dapat membuat kemajuan signifikan pada kelancaran bernapas dan meringankan gejala PPOK. Meski olahraga tak bisa memperbaiki paru-paru, setidaknya dapat memperkuat otot pernapasan, meningkatkan sirkulasi, dan meregulasi penggunaan oksigen secara lebih efisien.

Awalnya, mungkin akan terasa sesak napas. Namun, tak perlu khawatir karena gejala tersebut lumrah. Cobalah untuk berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan intensitas olahraga yang tepat. Pasien PPOK juga dapat mencoba berjalan kaki sebentar setiap hari untuk menjaga kinerja paru-paru.

5. Kurangi paparan alergen pemicu PPOK

Bagi pasien PPOK yang juga menderita alergi atau asma, hal-hal seperti debu, jamur, serbuk sari, hingga bulu dan sel kulit mati hewan peliharaan dapat memperburuk gejala. Sulit untuk menghindari alergen ini sepenuhnya di udara? Pasien dapat mengurangi paparan berbagai pemicu PPOK, sehingga bernapas lebih mudah.

Pasien dapat membentangkan penutup debu di bantal dan kasur, atau menjauhkan hewan peliharaan dari kamar tidur. Selain itu, pasien PPOK juga dapat menggunakan penyaring udara dengan teknologi high efficiency particulate air (HEPA) di dalam rumah. Jika pasien juga alergi spora jamur, maka air dehumidifier dapat digunakan di rumah.

6. Mempertahankan kualitas tidur

Kualitas tidur amat penting. Sebuah penelitian berjudul “Impaired Sleep Quality in COPD Is Associated With Exacerbations” dalam jurnal Chest tahun 2019 menunjukkan bahwa kurang tidur dapat memperburuk gejala PPOK.

Selain memicu stres, kualitas tidur yang buruk dapat berdampak buruk pada fungsi sistem imun dan meningkatkan risiko inflamasi, sehingga memperburuk gejala PPOK. Umumnya, pasien PPOK juga memiliki gangguan tidur penyerta, seperti sleep apnea. Akibatnya, tidur jadi terganggu.

Karena kualitas tidur dapat memengaruhi keparahan gejala PPOK, pasien yang sulit mendapatkan tidur setidaknya 8 jam tiap harinya sebaiknya berkonsultasi ke dokter.

7. Konsumsi makanan dan minuman bergizi seimbang

Menurut ALA, asupan nutrisi yang tepat dan seimbang setiap hari dapat meredakan gejala PPOK dan meningkatkan tingkat energi tubuh. Hal ini penting karena asupan nutrisi bisa jadi bahan bakar untuk aktivitas tubuh, termasuk bernapas.

Selain itu, makanan yang tepat dapat menjaga berat badan pasien PPOK tidak berlebihan. Dilansir Cleveland Clinic, jika pasien PPOK kelebihan berat badan, jantung dan paru-paru terganggu hingga harus bekerja lebih keras. Dengan kata lain, berat badan ekstra menuntut badan menghirup lebih banyak oksigen.

Namun, jika berat badan kurang, maka tubuh bisa lemah dan cepat lelah, sehingga lebih rentan terhadap infeksi paru-paru fatal. Demi mengikuti jadwal dan program diet yang tepat, pasien disarankan berkonsultasi dengan ahlinya.

8. Jangan lupa vaksin

WHO mengingatkan bahwa vaksinasi tetap penting untuk para pasien PPOK. Vaksin flu dan pneumonia amat penting untuk mencegah infeksi fatal pada pasien PPOK setiap tahunnya. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serika (CDC) mengatakan bahwa pasien PPOK dapat menerima vaksin tanpa syarat atau batas usia.

Mempertimbangkan kondisi pandemik COVID-19, pasien PPOK berisiko lebih tinggi. Oleh karena itu, vaksinasi COVID-19 amat penting. Bukan hanya mencegah risiko tertular, vaksin COVID-19 juga menurunkan tingkat keparahan dan risiko kematian akibat COVID-19.

9. Jangan terlalu stres

Stres ibarat lingkaran setan bagi pasien PPOK. ALA mencatat bahwa gejala sesak napas membuat pasien cemas, tetapi kecemasan dapat membuat pasien bernapas lebih cepat yang mana bisa membuat gejala sesak napas semakin parah.

Selain kondisi PPOK, mungkin ada hal-hal dalam kehidupan yang menyebabkan stres, dari masalah pekerjaan, keuangan, hingga pribadi. Oleh karena itu, cobalah untuk mengetahui faktor penyebab stres sehari-hari. Dengan begitu, pasien dapat menyusun strategi agar stres dapat diminimalkan.

Pasien PPOK juga bisa berkonsultasi ke psikolog atau psikiater untuk tahu cara mencegah dan mengatasi stres yang efektif. Menurut ALA, metode relaksasi seperti latihan pernapasan, meditasi, yoga, hingga taici bisa dimanfaatkan.

10. Hindari rokok dan asapnya

WHO memperingatkan bahwa rokok dan paparan asapnya yang beracun dapat berakibat fatal pada pasien PPOK. Jika pasien terbiasa merokok, maka satu-satunya cara untuk meredakan gejala dan meningkatkan kesehatan paru-paru adalah berhenti merokok.

Jika sulit untuk berhenti merokok, carilah bantuan dan dukungan agar semakin termotivasi. Tidak perlu buru-buru, selangkah demi selangkah tetapi pasti. Pastikan juga untuk menghindari paparan asap rokok agar tidak jadi perokok pasif.

11. Penggunaan inhaler yang tepat

Penggunaan obat hirup atau inhaler yang teratur dan benar dapat membantu pasien PPOK mengendalikan gejala dan memperlancar saluran pernapasan. Karena jenis inhaler berbeda-beda dan pemakaiannya tidak sama, gejala PPOK malah bisa memburuk jika penggunaan inhaler tidak benar.

Sering kali, bukan obat inhaler-nya yang tidak bagus, melainkan cara penggunaannya yang kurang benar. Agar penggunaan obat inhaler tepat sasaran dan dosisnya tepat, pasien PPOK disarankan untuk berkonsultasi secara berkala dengan dokter spesialis paru-paru.

12. Ketahui fakta-fakta tentang PPOK

Salah satu cara terbaik untuk menghadapi gangguan kesehatan jangka panjang adalah membekali diri dengan pengetahuan mengenai penyakit tersebut. Saran terakhir di daftar ini, pengetahuan tentang PPOK dan fungsi paru-paru dapat membantu pasien memahami dan mengelola gejala.

Pasien dapat memanfaatkan program rehabilitasi paru-paru oleh rumah sakit atau pusat kesehatan pernapasan. Selain pengetahuan PPOK dan fungsi paru, edukasi juga membantu meluruskan konsumsi obat PPOK, baik oral atau inhaler, untuk para pasien.

By naruto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *