5 Fakta Meteotsunami, Tsunami Badai Dasyat

RAJIADR – Mendengar kata tsunami, kita mungkin akan merasa takut atau merinding. Bagaimana tidak, kejadian ini gak hanya merusak apa pun yang diterjangnya tapi juga berpotensi mengancam jiwa.

Tsunami merupakan gelombang air besar yang diakibatkan oleh gangguan alam, seperti gempa bumi di dasar laut. Proses ini membentuk gelombang yang menyebar ke segala arah dengan kecepatan mencapai 600-900 km/jam.

Selama ini, kita mungkin berpikir bahwa tsunami hanya disebabkan oleh gempa atau letusan gunung berapi. Padahal, bencana tersebut juga bisa terjadi karena hal lain, seperti cuaca buruk. Itulah yang disebut dengan meteotsunami, ‘meteo’ yang berarti ‘cuaca’ dan ‘tsunami’ yang berarti ‘gelombang pelabuhan’.

Penasaran seperti apa meteotsunami dan bedanya dengan tsunami biasa? Yuk, simak beberapa faktanya berikut!

1. Terjadi karena adanya peristiwa gangguan tekanan udara, seperti badai

Dilansir NOAA, meteotsunami disebabkan oleh gangguan tekanan udara yang berkaitan dengan cuaca, seperti badai. Seperti dikutip dari situs The Conversation, badai yang menyebabkan kejadian ini umumnya memiliki kecepatan lebih dari 100 km/jam.

Selanjutnya, ia menghasilkan gelombang yang bergerak menuju pantai dan diperkuat oleh landas kontinen yang dangkal dan ceruk, teluk, atau lanskap pantai lainnya. Dikutip dari situs National Tsunami Hazard Mitigation Program, badai dapat menghasilkan gelombang di lautan dengan kecepatan yang sama dengan badai tersebut.

2. Ketinggian air bervariasi, namun bisa mencapai lebih dari 1,8 meter

Meteotsunami umumnya gak sebesar tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi atau erupsi gunung berapi. Namun menurut situs NOAA, gelombang ini dapat mencapai ketinggian 6 kaki atau sekitar 1,8 meter dan bahkan bisa lebih dari itu.

Contohnya, meteotsunami di Teluk Nagasaki, Jepang pada tahun 1979. Peristiwa ini menghasilkan gelombang setinggi 4,8 meter. Sementara kejadian diDanau Vela Luka, Kroasia pada tahun 1978 menimbulkan gelombang hampir 6 meter.

Besar kecilnya meteotsunami ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti intensitas, arah, dan kecepatan badai saat melewati perairan. Seperti tsunami akibat gempa bumi, kejadian ini memengaruhi seluruh kolom air dan bisa menjadi berbahaya ketika menghantam wilayah dangkal. Pembesaran gelombang yang lebih besar dapat terjadi pada pelabuhan, ceruk, dan teluk, seperti dilansir National Tsunami Hazard Mitigation Program.

3. Meteotsunami berbeda dengan gelombang badai biasa

Mengutip The Conversation, meteotsunami sebelumnya sempat dikira sama dengan gelombang badai biasa. Namun seiring perjalanan waktu, peristwia ini bisa terjadi juga saat cuaca cerah, yang menandakan bahwa keduanya merupakan fenomena yang berbeda.

Meteotsunami dan gelombang badai sama-sama dihasilkan dari efek peristiwa yang terjadi di udara seperti badai, tetapi keduanya berbeda dalam hal skala waktu. Meteotsunami aktif selama 3-4 jam dan terdiri dari beberapa gelombang yang menghasilkan arus yang kuat dan berubah dengan cepat. Sementara itu, gelombang badai umumnya lebih lambat dan tenang, berlangsung 12-36 jam, serta mengubah permukaan air secara bertahap.

Dikutip dari artikel yang ditulis oleh Alexander B. Rabinovich pada jurnal ilmiah Pure and Applied Geophysics, meteotsunami dapat terjadi dalam hitungan menit sampai 3 jam setelah kejadian badai. Sementara itu, skala luas daratan yang terdampak juga bervariasi, mulai dari ratusan meter hingga 100-150 km dari pesisir pantai.

4. Contoh meteotsunami di seluruh dunia

Meteotsunami tercatat pernah terjadi di banyak lokasi di dunia. Seperti dilaporkan oleh National Tsunami Hazard Mitigation Program, meteotsunami di Amerika Serikat kerap terjadi di sepanjang pesisir timur, Teluk Meksiko, dan Danau Besar. Kerusakan yang ditimbulkan bisa lebih besar daripada tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi.

Beberapa contoh kejadian meteotsunami di Amerika Serikat yaitu di Danau Erie pada 27 Mei 2012 setinggi 2 meter; di pelabuhan Boothbay, Maine pada 28 Oktober 2008 setinggi 3,6 meter; di Pantai Daytona, Florida pada 3 Juli 1992 setinggi 3 meter; dan di Danau Michigan pada 26 Juni 1954 setinggi 3 meter.

Salah satu meteotsunami terbesar pernah terjadi di Vela Luka, Kroasia, pada Juni 1978. Gelombang setinggi 19,5 kaki atau hampir 6 meter terjadi selama beberapa jam. Kejadian serupa juga pernah dilaporkan terjadi di Pelabuhan Ciutadella, Spanyol pada tahun 1984 dan 2004. Meteotsunami di kedua tahun tersebut menyebabkan kerusakan pelabuhan dan kapal-kapal.

Beberapa tempat lain di dunia, seperti Laut Adriatik, Laut Mediterania, dan beberapa teluk di Jepang juga pernah mengalami meteotsunami. Tempat-tempat tersebut tergolong rawan karena berbagai faktor, seperti faktor geografis, pola cuaca, dan batimetri (ukuran, bentuk, dan kedalaman badan air).

5. Lebih sulit dideteksi dibandingkan tsunami seismik atau vulkanik

Dilansir NOAA, identifikasi meteotsunami tergolong sulit dilakukan karena karakteristiknya hampir gak bisa dibedakan dengan tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi. Ia juga hampir mirip dengan gelombang badai biasa. Hal ini menyebabkan deteksi dini meteotsunami menjadi sulit dilakukan. Meski begitu, hingga saat ini, para peneliti terus memelajari dan melakukan riset mengenai cara untuk mendeteksinya.

Nah, itulah tadi lima fakta mengenai meteotsunami yang perlu kamu tahu. Ternyata, tsunami bisa juga disebabkan oleh badai. Karena itu, tetap hati-hati di mana pun kalian berada, ya!

By naruto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *