7 Fakta Jika Perang Antariksa Bukanlah Hal yang Mustahil Untuk Terjadi

RAJAIDR – Di Bumi, baik darat, laut, hingga udara adalah medan pertempuran. Sejak 1950an, negara-negara besar dunia telah berlomba-lomba untuk mencapai luar angkasa. Bukan tidak mungkin, peperangan akan berlanjut lebih modern di luar angkasa! Memang, sudah alami ya bagi manusia untuk terus berperang?!

Sebagai contoh, pada 2019, Amerika Serikat (AS) mendirikan U.S Space Force. Satuan militer khusus ini ditujukan untuk melindungi AS dan sekutunya di ranah luar angkasa! Apakah memang antariksa akan jadi medan perang baru? Dan, apakah tak terelakkan lagi? Melansir laman Space, inilah analisis soal perang antar manusia di luar angkasa!

1. Kita sebenarnya sudah masuk di masa perang luar angkasa!

Menurut Asisten Professor kurikulum Peace, War, & Defense di University of North Carolina, Mark Gubrud, istilah “perang luar angkasa” sebenarnya mencakup hal-hal yang sudah terjadi saat ini. Gangguan komunikasi satelit, laser, hingga sistem peretasan untuk memblokir atau spionase sudah termasuk mengumandangkan “perang” dari luar Bumi.

Meskipun tak diketahui secara menyeluruh, hal-hal tersebut sudah terjadi. Negara-negara besar telah memanfaatkan teknologi dari luar angkasa untuk memblokir dan mengganggu lalu lintas telekomunikasi komersial. Namun, hal ini dapat meningkatkan tensi karena pihak lain pun akan merencanakan serangan balik.

2. Selain roket, negara-negara juga turut mengembangkan senjata luar angkasa!?

Gubrud mengingatkan bahwa bahaya terbesar muncul dari menjamurnya sistem anti-satelit berbasis Bumi yang dapat mengganggu pesawat luar angkasa dan pengembangan senjata mutakhir di luar angkasa.

Tiga kekuatan besar dunia yang pasti kemungkinan besar bentrok adalah AS, Rusia, dan Tiongkok. Untungnya, hal tersebut belum terjadi. Ini dikarenakan sudah ada cukup pertimbangan mengenai stabilitas nuklir dan berbahayanya perang antara tiga blok besar tersebut.

Kesimpulannya, perang luar angkasa bermula dari perlombaan senjata luar angkasa. Meskipun tak kunjung terlihat, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan membuatnya mungkin, apalagi tak ada komitmen yang mengikat untuk mengontrol persenjataan luar angkasa!

3. Apakah wahana antariksa satu negara boleh terlalu dekat dengan wahana antariksa negara lain?

Menurut seorang analis kebijakan independen dengan spesialisasi keamanan luar angkasa dan nasional, Brian Chow, luar angkasa sudah dipenuhi oleh persenjataan seperti robot luar angkasa untuk menonaktifkan satelit.

Apakah harus dilarang? Robot luar angkasa ini penting untuk misi luar angkasa! Chow mengatakan bahwa masalah terbesar adalah komunitas internasional belum mengundangkan wahana luar angkasa untuk menjaga jarak dengan satelit atau wahana negara lain.

Oleh karena itu, pihak negara lain memanfaatkan kesempatan tersebut untuk tidak menjaga jarak wahana atau satelit luar angkasa masing-masing. Hasilnya, saat diserang, negara lain kekurangan waktu untuk memitigasi serangan!

Saat ini pun, komunitas internasional masih ragu apakah satu negara diizinkan untuk menempatkan wahana atau satelit luar angkasanya dekat dengan yang lain. Selain itu, strategi keamanan antariksa AS pun masih ambigu, terutama tentang ancaman probe dari luar angkasa.

4. Ambiguitas antara AS dan Tiongkok?

Ketidakpastian seputar strategi pertahanan dan saling membuntuti adalah hal yang berbahaya. Salah satu contoh adalah skenario konflik luar angkasa antara Tiongkok dan AS. Chow mengatakan bahwa Tiongkok bisa saja menempatkan probe luar angkasa untuk menjadi sistem anti-satelit. Hal ini memberikan AS dua pilihan yang tidak menguntungkan:

  • AS bisa lebih dulu menghancurkan probe milik Tiongkok, sehingga mempertahankan wahana antariksanya. Namun, Tiongkok mendapatkan bukti kalau AS yang menyerang duluan!
  • Jika memang Tiongkok menyerang dan menghancurkan satelit dan wahana antariksanya, AS tidak dapat bertempur secara efisien tanpa beberapa satelitnya!

Maju kena, mundur kena, AS terpaksa untuk “duduk manis”. Hal ini dapat menguntungkan Tiongkok. Jikalau tak ada revisi pada kebijakan luar angkasa, konflik yang dikhawatirkan Chow bisa saja terjadi sewaktu-waktu antar negara-negara besar dunia.

5. Perang di luar angkasa tak akan memenangkan siapa pun!

Sejak 1960an, analis dan berbagai pakar militer mengatakan bahwa perang di Bumi sudah usang, dan perang luar angkasa tak akan terelakkan lagi. Namun, bagi profesor Strategy and Security Studies di Maxwell Air Force Base, Alabama, Wendy Whitman Cobb, perang luar angkasa hanyalah membawa kerugian bagi pihak yang terlibat.

Menurut Wendy, lingkungan luar angkasa akan tercemar, hingga sulit untuk melaksanakan misi di sana. Selain itu, para satelit dan wahana luar angkasa jadi bebas beroperasi tanpa larangan. Mengingat pemantauan pengembangan senjata nuklir dari luar Bumi, lebih baik satelit beroperasi secara bebas daripada diketahui oleh pihak musuh.

6. Perang luar angkasa butuh biaya besar!

Komersialisasi luar angkasa dan ketergantungan ekonomi global pada sistem berbasis luar angkasa membuat perang luar angkasa amat mahal! Hal inilah yang dibahas Wendy dalam bukunya, Privatizing Peace: How Commerce Can Reduce Conflict in Space (2020).

Satelit amat rapuh dan hanya butuh satu puing untuk menghancurkannya. Hal ini dapat berdampak pada stabilitas ekonomi global, apalagi jika satelit tersebut mengatur transaksi keuangan dan komunikasi. Jadi, perlu pertimbangan strategis dan ekonomi sebelum mengumandangkan perang di luar angkasa!

Namun, Wendy menambahkan bahwa masih ada kemungkinan konflik karena faktor lain seperti ledakan nuklir. Pasalnya, gelombang elektromagnetik dari ledakan nuklir dapat mematikan satelit di luar angkasa sekitarnya dengan cepat!

Karena ambiguitas teknologi ruang angkasa dan kerahasiaan, kesalahpahaman antar negara tak terhindarkan. Selain kesalahpahaman teknologi, kesalahpahaman menangkap niat juga dapat memicu konflik.

7. Masih menantikan sikap pemerintahan Biden terhadap perang luar angkasa

Karena banyak negara sudah bergerak ke luar angkasa, sudah pasti AS tidak mau kalah! Menurut Joan Johnson-Freese, profesor di Naval War College, Rhode Island, AS tengah gencar untuk mempersenjatai dirinya di luar angkasa.

Saat U.S Space Force berdiri di pemerintahan Presiden ke-45 AS, Donald Trump, pemerintahannya mencoba untuk mengurangi konotasi “peperangan” yang lekat dengan U.S Space Force. Kemungkinan besar, pemerintahan penerus Trump, Joe Biden, akan semakin menekan konotasi tersebut.

Namun, apakah pengembangan teknologi dan rencana perang luar angkasa harus berlanjut? Joan mengatakan hal tersebut tak terelakkan, apalagi tanpa adanya diplomasi luar angkasa. Oleh karena itu, pemerintahan Biden diharuskan lebih transparan mengenai diplomasi luar angkasa.

Itulah beberapa pertimbangan mengenai perang di luar angkasa. Sebagian besar mengatakan bahwa hal ini tak terelakkan dan malah sudah terjadi. Apakah akan semakin parah? Semoga saja tidak!

By naruto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *