Karoshi Kerja Lelah Lalu Mati

RAJAIDR Karoshi berasal dari kata “karo” yang berarti kerja paksa dan “shi” yang berarti kematian. Tetsunojo Uehat seorang ahli medis Jepang mengartikan Karōshi sebagai kondisi seseorang yang menjalani pola kerja yang secara psikologis tidak sehat dan mengganggu pola hidup, serta mengancam nyawa.

Fenomena ini disebabkan oleh jam kerja yang berlebih, tiada henti membuat para pekerja stres dan mengakibatkan penyakit jantung dan stroke.

Pada tahun 1969, karoshi pertama kali terjadi di Jepang. Pria berusia 29 tahun yang pada saat itu bekerja di departemen pengiriman surat kabar di Jepang. Ketika di kantor, ia mendadak terserang stroke dan dinyatakan meninggal karena terlalu berlebihan bekerja.

Sejak kejadian tersebut, fenomena karoshi terus terjadi di Jepang karena para pegawai takut akan dipecat apabila kerja mereka tidak maksimal. Mereka juga berharap bisa segera naik pangkat atau naik gaji dengan menunjukkan hasil kerja yang maksimal di hadapan atasan mereka.

Sayangnya, kerja yang berlebihan ini terkadang membuat para pekerja di Jepang jatuh sakit. Sakit inilah yang kemudian dikenal sebagai penyebab paling banyak dari fenomena karoshi. Menurut penelitian Der-Shin Ke dari Chi-Mei Medical Center Taiwan di tahun 2012, penyakit terbesar yang berakhir pada karoshi adalah gagal jantung dengan persentase 18,7%, stroke tipe subarachnoid hemorrhage (SAH) dengan persentase 18,4%, dan stroke akibat cerebral hemorrhage dengan persentase 17,2%.

Setiap tahunnya, korban dari karoshi ini terus ada. Menurut data Departemen Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan Jepang di tahun 2015, jumlah kematian karoshi di Jepang mencapai lebih dari 1400 dalam satu tahun.

Secara psikologis, stres adalah sebuah proses bertambahnya dorongan yang menjaga kestabilan lingkungan internal tubuh seseorang (homeostasis). Dalam bentuk perilaku, stres seharusnya membuat kita mengerahkan tenaga agar bertahan di situasi yang kita anggap mengancam. Walaupun stres jangka pendek dengan waktu pemulihan yang cukup bisa berguna, paparan pada stres jangka panjang tanpa pemulihan yang cukup bisa berbahaya.

Stres jangka pendek, seperti ketika kita alami ketika olah raga biasa, meningkatkan keluarnya hormon-hormon stres seperti kortisol dan hormon-hormon anabolik seperti testosteron. Ketika stres berhenti, proses dari anabolisme dan respons untuk pemulihan bertambah. Jenis reaksi stres ini adaptif dan mungkin mempunyai beberapa manfaat bagi kesehatan.

Walaupun begitu, tanpa pemulihan yang cukup, fungsi-fungsi penyembuhan, contohnya terganggunya aktivasi dari sistem parasimpatis (sering disebut juga dengan sistem rehat dan cerna) yang menyimpan tenaga dengan mengendurkan pacu jantung dan menambah pergerakan usus.

Salah satu dampak buruk dari stres jangka panjang tanpa adanya pemulihan yang cukup adalah keletihan emosional, dan gejalanya bisa termasuk kelelahan fisik, kecemasan, kelelahan, sulit tidur, depresi, dan performa kerja menurun.

Mencintai pekerjaan memang tidak ada salahnya. Namun kamu harus ingat untuk tidak memaksakan diri bekerja terlalu keras. Ada saat di mana kamu harus berhenti dan beristirahat. Ini akan membuat tubuh dan pikiranmu lebih relaks sehingga siap untuk bekerja dengan lebih baik lagi.

By naruto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *