Sumbangan 1 Miliar Dosis Vaksin COVID-19 Telah Disepakati G7

Negara-negara G7 Janji Sumbang 1 Miliar Dosis Vaksin Covid-19 untuk Negara  Miskin | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW |  11.06.2021

RAJAIDR – Kelompok negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, yakni G7, dengan anggota Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat, sepakat menyumbangkan 1 miliar dosis vaksin COVID-19 kepada negara-negara berpenghasilan rendah.

Kesepakatan itu disampaikan pada Jumat (11/6) pada acara KTT G7 di Carbis Bay, Cornwall, sekitar 420 kilometer sebelah barat daya ibukota London.

Boris Johnson, Perdana Menteri Inggris yang menjadi tuan rumah mengatakan “kita perlu memastikan bahwa kita sekarang membiarkan ekonomi kita pulih dan masa depan yang lebih adil bagi dunia adalah sangat penting,” ujarnya seperti dikutip dari Al Jazeera.

G7 berkumpul dan bersepakat membahas virus corona dan berharap dengan bantuan vaksinnya akan mempercepat pemulihan ekonomi global.

Mereka juga menyinggung tentang diplomasi vaksin yang dilakukan oleh Rusia dan China. Meski begitu, bantuan vaksin COVID-19 yang G7 sepakati, diklaim sebagai bantuan tanpa pamrih dan menolak diplomasi vaksin.

1. ‘Kami tidak hanya memikirkan kami sendiri’ kata Angela Merkel

Para pemimpin G7 telah menghadapi tekanan yang kuat untuk merinci dan menjelaskan rencana pembagian vaksin global mereka. Hal ini karena didasarkan pada ketidaksetaraan pasokan vaksin di seluruh dunia. Banyak negara berpenghasilan rendah, khususnya di Afrika yang masih “gersang” atas pasokan vaksin virus corona.

KTT G7 yang berlangsung di Inggris dan dimulai pada Jumat (11/6) adalah pertemuan yang dirancang dengan tatapan optimisme ke depan, untuk membentuk dunia yang lebih baik setelah COVID-19. Negara anggota G7 berkomitmen untuk memimpin memulihkan dunia dari pandemik.

Anggota G7 bersepakat untuk menyumbangkan 1 miliar dosis vaksin COVID-19 dan akan diberikan kepada negara-negara dengan penghasilan yang rendah.

Melansir Associated Press, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan dia berharap KTT G7 itu akan menunjukkan kepada dunia bahwa “kami tidak hanya memikirkan diri kami sendiri.”

Jerman dan Prancis telah bersepakat untuk menyumbangkan kelebihan dosis vaksin mereka, masing-masing sebanyak 30 juta dosis. Sejauh ini, Prancis juga disebut telah mengirimkan bantuan vaksinnya ke Afrika, dengan sebagian besar ke Senegal, negara bekas jajahannya.

2. Komitmen AS dan Inggris dirasa belum cukup

Joe Biden sebelum berangkat ke KTT G7 di Inggris telah mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menyumbangkan sebanyak 500 juta dosis vaksin kepada negara-negara berpenghasilan rendah. Setelah itu, Boris Johnson juga menyampaikan bahwa Inggris akan menyumbangkan 100 juta dosis vaksin.

Sebanyak 5 juta dosis Inggris pertama akan dibagikan dalam beberapa minggu mendatang, dengan sisanya mulai diberikan tahun depan. Sedangkan Biden mengatakan dosis vaksin buatan AS akan dikirim mulai Agustus, dengan tujuan mendistribusikan 200 juta hingga akhir tahun. Sisa 300 juta dosis akan dikirimkan pada paruh pertama tahun 2022.

Dua negara tersebut menjadi pelopor dengan merangkul negara mitra kekuatan ekonominya untuk menjadi penyumbang vaksin agar kampanye vaksinasi segera dapat diselesaikan hingga akhir tahun 2022.

Meski begitu, komitmen AS dan Inggris dianggap belum cukup untuk mengobati dunia yang sudah tercabik-cabik oleh virus corona. Melansir Al Jazeera, Direktur Wellcome, yayasan amal sains dan kesehatan yang berbasis di London bernama Alex Harris mengatakan “komitmen baru AS dan Inggris adalah langkah ke arah yang benar, tetapi mereka tidak melangkah cukup jauh dan cukup cepat.”

Harris juga menambahkan bahwa “yang dibutuhkan dunia adalah vaksin sekarang, bukan akhir tahun ini. Pada momen bersejarah ini, G7 harus menunjukkan kepemimpinan politik. Kami mendesak para pemimpin G7 untuk meningkatkan ambisi mereka.”

3. Bantuan vaksin G7 tidak menuntut persyaratan

Sejak vaksin virus corona mulai berhasil ditemukan dan diproduksi secara masal, WHO telah memperingatkan pada kesenjangan pasokan dan tanggung jawab moral. Meski begitu, seiring berjalannya waktu, beberapa negara kaya yang memiliki banyak pasokan vaksin, membantu negara lain sebagai bagian dari alat diplomasi.

Sejauh ini, China, Rusia dan Israel adalah tiga negara yang dituduh menggunakan pasokan vaksin yang mereka miliki sebagai salah satu alat diplomasi.

Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab yang ikut hadir dalam KTT G7 tersebut ditanya apakah Barat khawatir tentang pengaruh bantuan vaksin China dan Rusia, Raab menjawab “tidak diragukan lagi ada beberapa hal yang sedang terjadi, dan kami tidak mendukung diplomasi vaksin, apalagi pemerasan.”

Raab berpendapat bahwa G7 memiliki kewajiban moral dan kepentingan kuat untuk membuat dunia divaksinasi.

Dalam penjelasannya, Dominic Raab juga mengatakan bahwa 80 persen dosis vaksin Inggris akan diberikan ke COVAX yang bertanggung jawab mendistribusikannya, sedangkan sisanya akan diberikan secara bilateral bagi negara yang sangat membutuhkan.

Baik Inggris maupun Amerika Serikat menegaskan bahwa apa yang mereka lakukan adalah “kami tidak menuntut persyaratan” dalam memberikan bantuan vaksin.

Dominic Raab juga berharap kepada China dan Rusia agar bekerja sama secara tim untuk memvaksinasi dunia. “Kami ingin negara-negara seperti China dan Rusia bersatu untuk mengatasi masalah pandemik, tetapi juga perubahan iklim, dan juga menghormati prinsip-prinsip dasar hukum internasional,” kata Raab seperti dilansir Reuters.

Dalam KTT tersebut, selain mereka membahas tentang vaksin, mereka juga membahas tentang krisis iklim. Mereka juga berencana membantu negara-negara berpenghasilan rendah untuk beralih dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan.

 

 

 

By naruto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *