Tanda Lingkup Kerja Yang Tidak Sehat

RAJAIDR Seorang pekerja kantoran akan menghabiskan sebagian besar waktunya dalam ruang kantor dan lingkungan kerja. Tak ayal, lingkungan kerja sangat mempengaruhi kondisi kejiwaan pekerja. Dalam kondisi lingkungan yang bersahabat, pekerja bisa sangat nyaman di kantor. Tetapi dalam kondisi sebaliknya, pekerja bisa sangat stress, tertekan, mudah marah dan bahkan depresi.

Penting bagi Anda mengenal ciri lingkungan kerja yang tidak sehat agar dapat segera mengambil tindakan yang tepat. Termasuk memutuskan berhenti kerja atau mengubah suasana kerja jadi lebih menyenangkan, walaupun mustahil.

Berikut ciri lingkungan kerja tidak sehat yang sering terjadi di beberapa perusahaan.

1. Minim Pujian, Rutin Kritikan dan Hujatan

Pujian dalam berbagai hal memberikan energi positif termasuk dalam dunia kerja. Pujian menjadikan pekerja menjadi lebih bergairah untuk menerima atau melanjutkan pekerjan lain yang menumpuk. Tapi bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya? Sebaik apapun pekerjaan yang Anda lakukan, tetap akan selalu menerima kritikan.

Hanya karena salah satu berkas kurang sesuai tetapi mendapat kritikan deras dan pedas. Padahal berkasnya bisa Anda perbaiki dengan segera. Alih-alih bersemangat kembali merivisi pekerjaan, justru timbul perasaan jengkel dan marah.

Perasaan semacam ini meningkatkan sress. Seakan apapun yang dilakukan senantiasa menemukan titik kesalahan. Kondisi ini jika terus berlanjut akan memperngaruhi mental dalam bekerja, muncul rasa malas-malasan.

2. Adanya Pembagian Jatah yang Tidak Merata 

Memiliki jabatan sama dan tugas yang tidak jauh berbeda, tetapi mendapatkan gaji dan fasilitas yang berbeda. Jika sistem demikian terjadi di perusahaan Anda bekerja. Anda dalam lingkungan yang mengenal sistem pembagian atau pilih kasih.

Sistem demikian mempengaruhi motivasi dan keberhasilan dalam mencapai terget Anda. Sebab akan muncul rasa kurang menyukai karena pilih kasih.

3. Kerja Tanpa Jeda Waktu

Bekerja akan terasa sangat berat bila setiap hari harus menyelesaikan target tertentu yang ditentukan oleh perusahaan. Apalagi ditambah dengan tugas yang sering mendadak dan harus selesai dalam jangka waktu tertentu. Terlebih target waktu yang ditentukan tidak sesuai dengan janji terdahulu.

Jika Anda bekerja dengan kondisi demikian, bisa jadi Anda berada di lingkungan perusahaan yang tidak sehat. Anda harus berpikir ulang untuk memahami apakah selesai atau meneruskan.

4. Manajemen Perusahaan yang TIDAK Jelas

Manajamen sebuah perusahaan itu ibarat sebagai sebuah nyawa. Ketika Anda berada dalam perusahaan yang memiliki manajemen kurang baik. Misalnya, pergantian jabatan yang sering mendadak, kebijakan yang berubah-ubah dengan sepihak dan komunikasi antar devisi dengan atasan tidak terjalin baik.

Ini merupakan indikasi perusahaan Anda sedang tidak sehat. Anda harus segara berpikir ulang bertahan atau memutuskan untuk segera keluar dari kantor.

5. Pendapat yang Tidak Dihargai

Anda sudah mengusulkan berbagai ide untuk kemajuan perusahaan. Usulan itu bukan tanpa sebab dan latar belakang yang tidak jelas, melainkan telah melalui kajian dan atas pengalaman Anda. Namun saat Anda menyampaikan ide tersebut dengan penuh antusias, ide tersebut tak diterima dan sering mengalami hal seperti ini. Bahkan ide yang Anda keluarkan tak pernah dipertimbangkan sama sekali.

Sebagus apapun ide Anda ketika tidak dihargai pasti akan merasa kecewa dan berkecil hati. Sebaliknya, jika mengalami atau berbuat kesalahan atasan begitu cepat memarahimu. Kondisi demikian harus berpikir ulang untuk bertahan.

6. Mengejar KEUNTUNGAN Semata

BOSS di perusahaan hanya berpatok pada keuntungan yang harus dipenuhi oleh karyawan. Setiap bulan ditarget sedemikian rupa untuk mampu menghasilkan keuntungan. Keuntungan ini akan berimbang ketika digunakan untuk mengembangkan perusahaan.

Tetapi nyatanya berbeda. Anda sebagai pekerja generasi millenial sebenarnya tak hanya mengejar keuntungan semata. Sebagai pekerja, Anda memiliki keinginan mulia lainnya yang ingin dicapai dalam kantor.

7. Minim Penghargaan

Sudah berbuat banyak dan menorehkan hasil terbaik, kemudian perusahaan Anda mendapatkan keuntungan melimpah dari hasil tersebut. Namun fakta yang didapat, Anda justru tidak menerima apa-apa, hanya lelah yang masih menumpuk dalam diri.

Misalnya contoh kecil yang kita temukan di beberapa kantor. Sebuah perusahaan mememenangkan tender untuk proyek besar. Kemenangan tersebut tidak lain berkat usaha Anda mati-matian dalam mengerjakan berbagai materi dan kelengkapan lainnya. Anda harus pulang diatas jam rata-rata, mengurangi waktu istirahat dan berkumpul bersama orang tersayang.

Setelah tugas selesai dan menghasilkan kemenangan Anda tidak diberikan sesuatu sebagai tanda terima kasih. Kondisi ini membuat Anda akan ogah-ogah akan hal serupa karena ujung-ujungnya tidak mendapatkan apapun.

Sebuah pekerjaan memang ada tuntutan yang ditargetkan. Di samping itu juga sebaiknya terdapat reward berkat dedikasi dan kesungguhan dalam menjalankan tugas dan kewajiban.

8. Tidak Adanya Pengakuan Atas Keahlian Anda

Anda memiliki kemampuan lebih dibandingkan rekan kerja anda lainnya. Kemampun itu memberikan kontribusi untuk perusahaan tempat bekerja. Namun, atas kemampuan itu Anda justru tidak mendapatkan penghargaan apa-apa dari atasan. Atasan terkesan biasa dan tidak menganggap ada karyawan yang memiliki potensi.

Sekarang cobalah nilai lingkungan bekerja Anda, lalu putuskan apa yang akan Anda lakukan untuk memperbaikinya. Apapun keputusan yang dipilih, tentunya harus melalui proses pertimbangan yang baik agar tidak menyesal kemudian hari.

9. Selalu Bekerja Lembur dan Tidak Punya Kehidupan di Luar Kantor.

Batasan antara dedikasi dan mengorbankan diri secara berlebihan itu tipis. Kamu dan teman-teman kantormu boleh saja lembur sekali-kali, jika memang suatu proyek atau tugas penting harus diselesaikan dengan cepat. Namun, jika hampir setiap orang selalu pulang di atas jam kantor, maka ada yang salah dengan manajemen perusahaan tersebut. Hal ini bisa berarti perusahaan tidak dapat mendelegasikan tugas dengan baik, mengambil terlalu banyak pekerjaan di luar kapasitas karyawan, atau tidak melatih karyawan untuk bekerja dengan efektif dan efisien. Perusahaan yang baik tidak akan membiarkan karyawannya bekerja tak kenal lelah. Justru, perusahaan dengan budaya yang baik akan mendorong karyawannya tetap punya waktu untuk keluarga dan hobi.

10. Tidak Ada Inisiatif dari Perusahaan untuk Mengembangkan Kompetensi Karyawannya.

Apakah kamu mau mengabdikan diri bertahun-tahun untuk sebuah perusahaan, tapi tidak merasa tumbuh dan berkembang? TENTU TIDAK. Itulah mengapa, perusahaan dengan budaya yang baik tidak hanya mementingkan kesejahteraan karyawannya dari segi materi (dengan gaji dan tunjangan), tapi juga pengembangan diri, seperti kompetensi dan kepemimpinan. Misalnya, melalui program-program pelatihan yang khusus dibuat atau dibiayai oleh perusahaan. Kalau pun perusahaan tempatmu bekerja tidak memiliki program-program ini, setidaknya lihat apakah manajer atau atasanmu selalu mendorong kamu untuk berkembang lebih jauh lagi. Jika tidak ada atasan yang peduli akan hal ini, dapat dipastikan perusahaanmu tidak peduli dengan pengembangan dirimu.

By naruto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *