Terungkap! Berikut 5 Fakta yang Berhubungan dengan Faktor Penyebab Autisme

11 Terapi untuk Anak Autisme yang Bisa Dicoba

RAJAIDR Autism spectrum disorder (ASD) atau autisme merujuk pada gangguan perkembangan neurobiologis yang memengaruhi cara berkomunikasi, berinteraksi sosial, serta pemrosesan sensorik.

Sebagai gambaran, data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) pada Maret 2021 melaporkan, di antara anak-anak usia 8 tahun, kira-kira 1 dari 54 anak mengalami autisme. Jumlah tersebut dikatakan menunjukkan peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya.

Menimbang data tersebut, para ahli makin tertarik melakukan riset untuk menguak faktor-faktor yang berkaitan dengan autisme. Simak fakta-faktanya berikut ini, ya!

1. Hubungan autisme dan paparan ozon selama kehamilan trimester ketiga

Study to Explore Early Development (SEED) merupakan riset multi tahunan yang didanai oleh CDC yang menjadi bagian dari Autism and Developmental Disabilities Research and Epidemiology. SEED berfokus pada anak-anak usia 2 sampai 5 tahun.

Salah satu cakupan riset yang dilakukan adalah identifikasi kondisi kesehatan pada anak-anak dengan autisme serta faktor risiko penyebabnya. Selain itu, riset ini memiliki tujuan untuk membedakan karakteristik fisik dan perilaku anak dengan autisme, anak dengan masalah perkembangan lain, dan anak yang tidak mengalami masalah perkembangan.

Penelitian terbaru menunjukkan adanya korelasi antara ASD dan paparan polusi ozon pada kehamilan di trimester ketiga, dilansir Medical News Today. Menurut penelitian dalam jurnal Epidemiology tahun 2020, paparan polusi udara jenis partikulat pada tahun pertama kehidupan bayi dapat meningkatkan risiko terjadinya autisme.

2. Varian gen tertentu bisa meningkatkan risiko autisme

Dalam sebuah penelitian dalam jurnal Cell tahun 2020, tim peneliti berusaha mengidentifikasi varian 102 gen yang dikaitkan dengan faktor risiko autisme. Hasilnya, sebanyak 53 gen yang berhasil teruji sebagian besar berkaitan dengan autisme.

Studi sebelumnya dalam jurnal Frontiers in Neuroscience tahun 2016 menemukan bahwa autisme dengan varian gen spesifik ASD menunjukkan peningkatan fungsi intelektual dibandingkan individu dengan autisme yang tidak memiliki varian gen spesifik tersebut. Varian gen yang berhasil teridentifikasi diketahui berada di korteks serebral otak yang berpengaruh terhadap kompleksitas perilaku.

3. Respons neurobiologis terhadap pengembangan autisme

Penelitian berbasis neurobiologis berhasil menemukan temuan menarik yang menghubungkan beberapa jenis malfungsi sel dan ASD. Salah satunya penurunan mutu mielin pada tikus dengan ASD.

Studi dalam jurnal Nature Neuroscience tahun 2020 menunjukkan, malfungsi berbasis varian gen di area oligodendrosit (sel yang membentuk selubung pada sistem saraf pusat) terkait penurunan produksi mielin dapat mengganggu perkembangan otak.

4. Kaitannya mikrobioma di saluran gastrointestinal dan peningkatan autisme

Studi yang terbit dalam International Journal of Molecular Sciences tahun 2020 telah berhasil mengeksplorasi hubungan antara ketidakseimbangan mikrobioma usus dan ASD.

Adapun studi dalam jurnal Microbiome tahun 2017 mencoba melakukan penyelidikan atas microbiota transfer therapy (MTT) pada anak dengan autisme. Setelah diberlakukan MTT, diketahui para partisipan mengalami lebih banyak keragaman bakteri usus. Di samping itu, penerapan MTT dikaitkan juga dengan penurunan gejala gastrointestinal, peningkatan bahasa, interaksi sosial, serta gejala perilaku.

5. Metode diagnostik inovatif untuk mendeteksi ASD secara dini

Studi dalam jurnal Autism Research tahun 2020 menunjukkan, bayi yang mendapatkan diagnosis ASD memiliki respons otak yang lebih lambat terhadap suara selama tes auditory brainstem response (ABR) yang dilakukan saat lahir.

Sementara itu, peneliti juga melakukan pendekatan dari segi sistem metabolisme anak-anak dengan autisme. Hal ini nantinya akan memudahkan pilihan intervensi medis terkait perawatan spesifik yang diperlukan anak.

Menimbang prevalensi kasus autisme yang meningkat, para ilmuwan berusaha untuk mengungkap faktor-faktor yang dikaitkan dengan ASD. Kendati demikian, Autistic Self Advocacy Network (ASAN) mewanti-wanti agar masyarakat tidak menganggap autisme sebagai sesuatu yang harus “diobati” atau “disembuhkan”. Fokus penanganan autisme yang sebaiknya ditempuh adalah menerapkan perawatan spesifik, misalnya terapi untuk meminimalkan dampak dari kondisi ASD.

By naruto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *